Cara Untung dari Resesi

Resesi berbanding lurus dengan tingkat pengangguran, tapi kita tetap punya peluang menghasilkan uang dalam kondisi sulit ini.

Resesi Indonesia 2020

Pandemi Covid-19 diperkirakan akan berlanjut tahun depan, sehingga ketidakpastian terus membayangi. Saat ini, yang sepertinya sudah pasti adalah Indonesia masuk resesi setelah mencatatkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2020 minus 5,32 persen. Pada kuartal III/2020, Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi negatif antara minus 2,9 sampai 1 persen yang akan diumumkan pada 5 November mendatang.

Masyarakat Indonesia tentu harus bersiap untuk menghadapi resesi. Salah satu yang harus dihadapi adalah pemutusan hubungan kerja (PHK). Kita tau, PHK selalu berefek domino seperti yang dialami oleh Fadli.

Di umur 38 tahun, Fadli sama sekali tidak menyangka akan kehilangan pekerjaannya sebagai manajer operasional di sebuah hotel bintang 4. Industri perhotelan memang paling terpukul oleh pandemi Covid-19.

Dia telah bekerja di perhotelan sejak 12 tahun lalu. Dengan mulai dari menjadi resepsionis hingga akhirnya bisa punya gaji “dua digit”. Tentu bukan proses yang mudah. Sayangnya, tuntutan dunia kerja saat pandemi sangat berbeda dari skill yang ditempanya belasan tahun terakhir.

Untung, ada temannya yang bisa memberikan pekerjaan sebagai customer service di perusahaan teknologi. Dia bisa work from home (WFH), tapi gajinya anjlok banget dibandingkan sebelumnya. Mau tidak mau, dia harus bekerja untuk menafkahi istri dan 3 anaknya.

Belum lagi, dia harus menjual mobil dan merelakan rumah yang baru dia cicil selama 4 tahun dari tenor 15 tahun. Selain itu, istrinya harus kembali bekerja setelah 10 tahun berhenti karena mengurus rumah tangga. Tidak ketinggalan, orang tua mereka juga “kebagian jatah” mengurus ketiga cucu.

Hubungan Resesi dan Pengangguran

Jumlah pengangguran cenderung meningkat dengan cepat, dan seringkali jumlahnya tetap naik selama resesi. Dengan terjadinya resesi, perusahaan menghadapi peningkatan biaya, pendapatan yang stagnan atau menurun, dan tekanan untuk membayar utang juga menguat. Jadi mereka mulai memberhentikan pekerja untuk memotong biaya.

Jumlah pekerja yang menganggur di banyak industri meningkat secara bersamaan, pekerja baru yang menganggur merasa sulit untuk mencari pekerjaan selama resesi, dan rata-rata durasi menganggur makin lama. Sekilas, begitulah hubungan antara resesi dan pengangguran.1

GDP Amerika Serikat dan tingkat pengangguran saat krisis 2008

Fadli cukup beruntung karena di-PHK 7 bulan lalu, sehingga bisa segera mendapatkan pekerjaan. Namun, dia mengaku tetap merasa khawatir perusahaan yang sekarang juga akan terdampak resesi. 

Jangan Cuma Pasrah, Tangkap Peluang Emas Resesi

Kamu mungkin akan atau malah sudah bernasib sama dengan Fadli. Itu bukan berarti kamu harus pasrah, ya. Kamu bisa ikuti yang dikatakan oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira bahwa masyarakat harus berhemat dalam menghadapi resesi.2

Artinya, kamu harus menunda membeli barang-barang keinginan dan fokus memenuhi kebutuhan pokok saja. Untuk itu, kamu bisa atur keuangan dengan teknik sederhana seperti kakeibo yang membagi kategori pengeluaran menjadi empat:

  1. Survival seperti makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan pokok lainnya.
  2. Optional seperti makan di restoran, liburan, fashion, dan keinginan lain.
  3. Cultural seperti mengunjungi festival, membeli buku, dan hal lain yang bisa menambah wawasanmu.
  4. Extra seperti biaya beli kado atau sumbangan yang mau tidak mau harus kamu keluarkan.

Setelah menggelola uang dengan teknik sederhana itu, kekhawatiran Fadli berkurang karena ternyata dia bisa menyisihkan uang untuk berinvestasi emas. Padahal, dulu tidak bisa beli emas dari penghasilan “dua digit”-nya. 

Dari pengalaman ini, kita bisa bilang yang menentukan punya uang bukan dari penghasilan besar, melainkan pengeluaran kecil. 

By the way, kenapa Fadli berinvestasi emas? Kamu mungkin juga sudah tau emas termasuk aset safe haven. Saat krisis, banyak investor memang mengalihkan asetnya ke emas karena tergolong “aman”.

Sebenarnya, emas juga cukup berisiko. Misal, kalau beli emas di akhir 2011 dan dijual pada 2018, kamu dapat untung cuma 10 persen tanpa menghitung inflasi. Jadi, instrumen seperti emas yang dibilang “aman” juga tetap harus melalui analisis, termasuk memperhatikan timing

Bisa dibilang, sekarang juga waktu yang cukup menguntungkan untuk berinvestasi emas karena berada di area support-nya. Kita juga bisa beli kalau harga emas turun dulu ke 1790.20.

Analisis harga emas (XAU/USD) oleh Wiseree

Analisis penting banget untuk mengoptimalkan investasi. Seperti Fadli yang untung dari investasi emas karena harganya terus naik sejak dia beli, bahkan mencapai harga tertinggi baru dalam 10 tahun terakhir yaitu $2075.04/troy ounce

Kamu juga harus ingat, ya, investasi apa pun pasti berisiko. Meskipun begitu, risiko bisa dikelola untuk mengoptimalkan keuntungan. Begitu juga dengan resesi yang bisa kamu hadapi dengan atur keuangan secara teliti.

Analisis Lanjutan | Cara Untung Emas: antara Uang dan Senang

Menu